Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Mendengkur Bisa Sebabkan Kematian?


detail
Pria tertidur (Foto: Corbis)
enlarge this image


MENDENGKUR atau ngorok ternyata tidak boleh dianggap remeh, apalagi dianggap sebagai tingkat kualitas tidur seseorang. Jadi, persepsi yang menyatakan bahwa mendengkur menandakan tidur seseorang nyenyak adalah salah.

Jika Anda memiliki kerabat yang diketahui mempunyai kebiasaan mendekur di setiap tidurnya, atau hal tersebut terjadi pada diri Anda, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Pasalnya, mendengkur tidak membahayakan jika hanya terjadi sesekali saat kelelahan. Tetapi jika setiap tidur Anda mendengkur, Anda diduga mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA adalah jenis gangguan tidur yang memengaruhi pernafasan.

Pada saat tidur, di sela-sela mendengkur penderita OSA mengalami nafas berhenti secara berkali-kali selama tidur. Tiap jeda napas berlangsung selama lebih dari 10 detik dan mengakibatkan menurunnya pasokan oksigen, OSA menjadi serius ketika kejadian ini muncul lebih dari lima kali per sejam tidur. Namun, beberapa penderita OSA dapat mengalami hal tersebut lebih dari 100 kali per sejam tidur.

Anda patut curiga mengidap OSA, jika mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
- Dengkuran keras dan mengganggu; terengah-engah atau tersedak selagi tidur.

- Kantuk berlebih di siang hari.

- Sakit kepala di pagi hari; masalah dalam ingatan atau belajar.

- Mudah tersinggung dan tidak dapat berkonsentrasi dalam pekerjaan.

- Suasana hati naik turun atau kepribadian berubah; kemungkinan depresi.

- Kerongkongan terasa kering saat bangun tidur atau sering buang air kecil di malam hari.

OSA disebabkan terjadinya sumbatan pada jalan nafas, bisa dikarenakan bentuk rahang yang terlalu kecil atau alergi yang menyumbat nafas.

Jika tak ditangani OSA dapat menyebabkan timbulnya penyakit, seperti hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

"Mendengkur itu berbahaya, bukan pertanda tidur nyenyak. Bisa menyebabkan kematian karena penyakit, bisa menghilangkan kewaspadaan karena kurang kualitas tidur. Ini bisa diobati dengan terapi medis atau terapi perilaku kognitif sehingga bisa berubah 180 derajat dari arah kematian, bisa jadi sehat kembali,” jelas Dr Rimawati Tedjakusuma SpS RPSGT pada media edukasi di Rumah Sakit Medistra.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar